Sebuah perjalanan yang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menapaki jejak doa dan sejarah. Wisata Religi bersama Pemerintah Desa Lombang dimulai pada Jumat sore, 26 Desember 2025, dengan keberangkatan penuh harap dari Pom Bensin Limbangan. Senja menjadi saksi awal langkah rombongan menuju perjalanan batin yang sarat makna.
Tujuan pertama adalah Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon.
Di bawah langit malam, selepas Isya, rombongan menundukkan hati, menata niat, dan menitipkan doa di pusara sang wali. Dari Cirebon, roda perjalanan terus berputar menuju Pekalongan, menyambangi Makam Sapuro—tempat hening yang kembali mengajarkan arti kesederhanaan dan keteguhan iman.
Perjalanan spiritual berlanjut ke Klaten. Sebelum menyapa Makam Ki Ageng Padang Aran atau Sunan Bayat, rombongan singgah di Masjid Agung Al Aqsoh untuk menunaikan sholat Subuh berjamaah, mengawali pagi dengan kebersamaan dan ketenangan jiwa.
Dari Klaten, langkah diarahkan ke Bantul, Yogyakarta, menuju Makam Syekh Maulana Maghribi di kawasan wisata Parangtritis. Di antara semilir angin dan luasnya alam, doa kembali dipanjatkan, menyatu dengan kekhusyukan perjalanan.
Tak hanya jiwa yang disegarkan, raga pun dijaga. Rombongan menikmati makan siang di RM Grafika, lalu menyempatkan membawa pulang oleh-oleh khas Kota Gudeg: bakpia, sebagai pengikat kenangan manis dari Yogyakarta.
Perjalanan pun ditutup dengan singgah di Malioboro, tempat langkah-langkah kecil bertemu cerita besar.
Pukul 22.00 rombongan meninggalkan Yogyakarta, membawa pulang bukan hanya oleh-oleh, tetapi juga ketenangan dan pengalaman spiritual. Tepat pukul 08.00 pagi, rombongan tiba kembali di Pom Bensin Limbangan—dengan hati yang lebih lapang, doa yang terpanjat, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.